Teruntuk Perempuan yang Sering Menyulam Kekhawatiran

Kepada perempuan yang berkaca,


Saya menulis ini saat malam mulai beranjak menuju gulita yang lebih pekat di dalam ruangan persegi panjang. Indera pendengaran saya masih bisa menangkap sayup-sayup muda-mudi yang terus mengobrol sambil sesekali terbahak. Ah, saya lupa ini rupanya sabtu malam. Orang-orang gemar sekali merayakan kebebasan dengan bergumul dan berkumpul membahas yang ringan-ringan.  Tulisan ini ingin saya persembahkan kepada seseorang yang berkaca pada tiap kata-kata yang berbaris di alinea-alinea ini. Sebagai pengingat juga sebagai alat mengenang yang sudah-sudah untuk dilupakan lebih dalam. Percayalah, tidak semua hal patut diingat hingga beku jadi dendam. Yang manis hanya manis pada waktunya, seperti permen karet ia punya masa tinggal hambar. Tidak usah terus dibangga-banggakan. Pun tidak semua kata-kata yang menusuk tajam perlu dimasukkan ke hati. Jangan membuatnya makin hitam oleh hal-hal negatif dari mulut karet orang yang suka sok tahu.

Bagaimana kabarmu sekarang?

Saya berharap jauh jauh lebih baik dari saat tulisan ini tengah diselesaikan. Tahukah kamu bahwa kamu diri adalah perempuan yang terlalu sering menumpuk kecemasan. Ada hal yang bisa jadi baik, tapi karena kekhawatiran yang terlampau menggunung di kepalamu semua jadi buyar. Tidakkah kamu ingat berapa banyak kesempatan yang hilang ditelan kecemasan level dewamu? Menyesallah, menyesallah hanya kemarin saja.

Oh iya, menjadi perempuan pencemas juga mengurangi keanggunanmu lho. Kamu terlalu sering kudapati tergopoh-gopoh melangkah. Ceroboh melakukan sesuatu hingga merusaknya  membuat berpasang-pasang mata mengarah kepada sosok tinggimu. Saya, kuharap hari ini kamu sudah jadi lebih baik. Tidak selalu membela diri dengan alasan artikel ilmiah yang menyuarakan pemakluman atas karaktermu. Kamu bisa jadi lebih baik!

                Bagaimana ruang kerja pikiranmu sekarang?

Seperti pasar yang sibuk dan berisik. Kamu terlalu banyak berpikir hingga terkadang sering melewatkan hal-hal yang butuh untuk segera diselesaikan. Ada hal yang sebaiknya tak perlu kamu urusi, dunia tidak memintamu menjadi malaikat penyelamat. Kamu harus tahu sendiri di momen seperti apa orang bisa menjadi seorang penolong ataupun orang yang sibuk ikut campur urusan orang lain yang tidak minta diurusi. Lagipula, apa yang pikiran kamu kerjakan bukanlah sebuah kesibukan yang menggolongkanmu sebagai penolong, kamu hanya terlalu terobsesi.

Kuharap saat kamu terus memutar otak untuk membayangkan yang berlalu, tulisan ini menyadarkanmu bahwa saat ini kamu tidak lagi punya waktu terus memikirkan  kesibukan orang lain. Takdir mereka, milik mereka. Membantu berbeda dengan meminjam mimpinya untuk kau wujudkan, meski sekadar angan-angan panjang yang melelahkan. Kamu sudah sadar kan kalau itu melelahkan?

                Sudah sesiap apa kamu dengan impianmu?

Tidak ada yang pernah salah dari bermimpi menjadi orang hebat dan terkenal. Yang keliru adalah saat kamu bermimpi meraihnya untuk dimanifestasikan sebagai kebanggaan. Sekali lagi, tidak perlu bangga dengan pencapaian baik. Cukup syukuri dan buat ia menjadi berfaedah karena orang lain merasa beruntung dan bahagia atasnya. Jika belum, berarti kamu belum jadi apa-apa. Kuingatkan lagi kutipan favorit kamu: manusia yang baik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Oh iya, apakah mimpi-mimpi yang ingin kamu wujudkan itu adalah murni keinginan terbesarmu? Sudah sebesar apa persiapanmu? Sudah selapang apa dada kamu untuk menerima kekecewaan? Saat kamu membaca ini kuharap separuh mimpimu telah menjadi nyata. Iya, jangan pernah putus bermimpi dan teruslah berlari meraihnya. Allah bersama orang-orang yang sabar.


Masih banyak yang ingin kusampaikan kepadamu, diri. Karena malam ini pun bertepatan dengan malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadan di mana saya ingin mengungkapkan semua yang pernah terjadi untuk diperbaiki. Kesannya seperti refleksi akhir tahun yah? Saya berencana mengejar lailatul qadar lebih tepatnya, supaya saat kamu membaca ini kamu bisa merasakan bagaimana harapan-harapanku beserta doa yang kutembakkan ke langit tepat sasaran dan kembali sebagai sebuah rahmat. Semoga!

Diri, kuingatkan lagi bahwa tidak perlu berbuat baik hanya untuk tampil keren. Sia-sia! Tidak usah membanding-bandingkan diri hanya supaya kamu tetap jadi jauh lebih kece dari orang sebelah. Surga tidak melihat itu! Saat kamu membaca ini, kuharap kamu benar-benar telah beranjak dari hitamnya masa lalu, dari perihnya kegagalan, dan dari indahnya makar iblis yang menipu. Selamat menjadi baik diri dan teruslah baik!

Tetanda

-ditulis saat malam mulai larut di malam ke 23 ramadan dan berhenti saat lolongan anjing yang saling memburu makin nyaring-

Gambar: Pinterest

#7DaysKF

3 Alasan Saya Pantas Mendapat Pasangan Hidup yang Baik


Menginjak usia dua puluhan topik obrolan perempuan-perempuan berkembang tidak lagi sebatas  kekaguman pada lawan jenis baik teman maupun idola terkenal. Pembicaraan meningkat ke topik tentang keinginan memiliki pasangan hidup yang akan mendampingi sepanjang hayat. Di tingkat ini, saya dan teman-teman sering mengobrolkan tentang sosok pendamping hidup idaman. Tentu saja, sosok pria idealis masing-masing orang berbeda bergantung pada selera yang dimiliki. Hal terpenting bagi kami para perempuan adalah menemukan lelaki yang bisa memberi kebahagiaan yang tidak hanya sebatas dunia, tapi juga sampai ke akhirat. Keinginan ini membuat saya jadi sering menghadiri kajian pra-nikah dan pernikahan di kota yang saya diami. Tujuannya tentu saja mendapat pencerahan secerah-cerahnya dari ahli agama yang terkenal.

Ada hal aneh yang membuat saya heran dari perempuan yang menginginkan memiliki pendamping yang soleh plus-plus. Ketika impian itu terwujud dengan datangnya lelaki idealis yang soleh plus-plus untuk mengkhitbah. Para perempuan itu menjadi bingung di samping kebahagiaan yang tersembunyi. Mereka tiba-tiba merasa rendah diri dan berprasangka bahwa tak layak menjadi pendamping lelaki soleh plus-plus itu. Namun juga mempertimbangkan jika yang datang melamar adalah lelaki dengan kesolehan di bawah standar yang ditetapkan. Perkara ini dialami oleh beberapa perempuan di sekitar saya, termasuk teman saya yang membuat saya bingung juga harus menjawab apa saat mereka meminta saran.

Kriteria pendamping dan alasan kepantasan adalah sepenuhnya masalah pribadi yang melibatkan pembauran perasaan dan logika. Sebab bagaimana pun seseorang memberi saran dan nasehat kalau merasa bisa menumbuhkan dan membangun cinta ideal bersama,  pasti maju juga. Sebaliknya, membahas tentang kepantasan dipilih oleh lelaki rasanya seperti ‘menjual diri’. Jika jualan saya baik, kali saja suatu waktu tanpa sengaja seorang lelaki ideal tanpa sengaja membaca tulisan ini dan tertarik. Wah kepedean banget ya. Tapi saya hanya akan membahas yang secara umum saja bagi saya pribadi mengapa pantas memiliki pendamping hidup yang baik.

Berusaha menumbuhkan kebaikan

 Kebaikan bagi saya adalah hal yang sulit diukur. Hal yang tampak baik dari diri seseorang belum tentu mewakili apa yang sebenarnya tersembunyi dari dalam dirinya. Seperti kata pepatah dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati seseorang siapa yang tahu. Maka saya sepakat kalo setiap perempuan biasa termasuk saya berhak mendampingi lelaki baik-baik yang baik. Lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga, sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk menjadi baik sehingga bisa membangun rumah tangga yang baik dan membimbing istrinya hingga ke surga. Seperti keyakinan dalam agama yang saya anut bahwa patuhnya seorang istri pada suami yang baik bisa berbuah surga. Sementara surga sang suami berasal dari bakti pada ibunya.

Visioner dalam membangun rumah tangga sampai ke surga

Saya yakin semua orang menginginkan surga, tapi tidak banyak yang benar-benar memiliki visi membangun rumah tangga sampai ke surga. Sebagai bukti adalah banyak rumah yang tidak pernah lepas dari pertengkaran, hubungan yang ternodai oleh pengkhianatan, dan keadaan yang lebih parah yang menyiksa batin dan fisik. Nah, untuk mewujudkan visi ini tentu saya harus menuntaskan misi mendapatkan pendamping yang baik.

Relawan anak

Poin ini adalah yang paling realistis, tidak seabstrak dua poin sebelumnya. Sebagai seorang perempuan yang menyadari punya potensi sebagai calon ibu, menjadi relawan anak sangat membantu untuk mengerti bagaimana cara mengurusi anak-anak. Sebagai relawan anak di sebuah komunitas, saya banyak belajar ilmu parenting dan proses memahami tumbuh kembang anak yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Saya juga dibelajarkan untuk memperlakukan anak-anak dengan baik dan benar. Didampingi lelaki baik kelak tentu turut membantu saya mencetak generasi terbaik juga.

Itu saja sih, saya sengaja tidak membuatnya lebih kontekstual biar kamu (calon pendamping idaman saya) *kode* jadi penasaran. Hahaha. Lagipula, saya tidak pernah benar-benar pandai ‘menjual diri' sih. Wkwk


Gambar: Pinterest


#7DaysKF

Kepada Gadis: Suci dan Ayu


Baru saja aku merebahkan diri di kasur kosan dengan bantal yang bertumpuk mengganjal kepalaku dan kemeja yang belum diganti, kemudian meraih ponsel dari dalam tasku dan memeriksa barangkali ada pesan atau panggilan. Beberapa panggilan tak terjawab muncul di layar ponselku saat aku membuka kunci layarnya. Saat ku telepon kembali nomor anonim tersebut tak ada jawaban. Aku menyerah, masih dengan rasa penasaran yang menggelora di benakku. Di media sosialku, sebuah pesan obrolan beberapa jam lalu baru bisa kubaca, oh rupanya sahabatku Lala.

     Tadi habis dari rumahmu, tapi kamunya tidak ada. Saya bareng Andi Ayu. Dia mau ketemu!

Sebaris kalimat itu menggangguku. Aku segera bangun dan memperbaiki posisi duduk. Membalas pesan dengan serius dan antusias. Aku mendadak senyum-senyum sendiri dan geregetan karena sebuah nama: Andi Ayu. Hampir satu dekade kami tak berjumpa. Dan saat dia berusaha menemuiku, aku malah tak bisa bertemu karena sibuk dengan urusan lab.

Beberapa menit setelah membalas pesan Lala, nomor anonim kembali menghubungiku. Sebuah suara yang lama tak kudengar, masih dengan nada dan warna yang sama. Suaraku sedikit bergetar karena terharu dengan panggilan itu. Kami saling menyapa dan menanyakan kesibukan masing-masing. Meski benar-benar percakapan pendek yang tak lebih dari lima menit, karena dia tiba-tiba ada urusan. Tapi aku bahagia! Ku simpan nomor anonim itu ke daftar kontak ponselku. Kini tidak anonim lagi!

Setelah percakapan singkat hari itu, tidak ada lagi percakapan selanjutnya. Nomor yang kusimpan di ponselku, beberapa waktu terbaca mempunyai akun Whatsapp dan LINE. Dengan senyum yang mengembang kumulai menyapanya. Lama sekali dia tak membalas. Sampai berhari-hari dia membuatku terus menunggu.

Andi Ayu adalah teman sebangkuku saat kelas dua SMP. Awalnya kami tidak pernah dekat. Dia hanya dekat dengan salah satu teman segengku yang kala itu meminta dia dimasukkan ke geng kami. Justru saat itu aku merasa tidak setuju dia bergabung dengan kami secara tiba-tiba, hanya karena mengobrol beberapa hari dengan salah seorang dari kami. Akibat mataku yang makin tak bisa membaca tulisan di papan tulis, aku yang duduk di belakang dipindah ke bangku terdepan. Persis di sebelah Ayu.

Perempuan yang mirip Nova Eliza karena tahi lalat yang cukup besar di atas bibirnya ini adalah tipe periang dan tengil. Aku sering berterus terang padanya tidak menyukai orang yang tengil dan dia akan makin menjadi-jadi. Dia selalu jujur tentang diriku, apa yang kurang dan tidak baik dariku.

Kami adalah dua kolaborator yang pas saat belajar dan mengerjakan tugas. Kami cocok sekali dalam berbagi pengetahuan. Dia sering membantuku dalam pelajaran matematika yang paling disukainya. Alhasil, kami selalu jadi yang tercepat memecahkan jawaban soal matematika.

Kepada dia, aku juga menceritakan tentang seseorang yang aku sukai. Dia selalu menggodaku saat mendengar orang-orang bertengkar memperebutkan orang yang kusukai. Saat itu aku yang malu mendengar kejadian itu malah marah kepadanya. Menurutku dia tidak pantas mempertanyakan apa aku cemburu dengan orang-orang itu. Dia juga sering meledekku karena teman lelakiku yang sering mengganggu sampai menggombal. Aku sedih dan kecewa sekali saat dia memberitahu bahwa tantenya telah menguruskan surat pindah ke Bone. Aku benar-benar kehilangan, bangku tempatnya mendadak seperti cerita film bangku kosong.

Aku ingin sekali bertemu dengannya untuk mengganti pertemuan yang pernah hampir terjadi. Juga untuk menghapuskan kekecewaanku karena nomor yang tersimpan di ponselku ternyata milik seseorang yang tinggal di provinsi sebelah, Kendari. Padahal wajah yang menjadi gambar profilnya mirip sekali dengannya. Aku ingin bercerita dan bertanya banyak hal kepadanya. Juga mungkin bernostalgia sambil bernyanyi lagu favorit kamu, “Sampai menutup mata”-nya Acha Septriasa. Ah, Ayu bagaimana kabarmu yah?

Terakhir, aku ingin menyampaikan kalau aku juga ingin bertemu teman masa kecilku. Suci. Kami juga punya banyak kenangan yang melibatkan perasaan dan cerita-cerita yang jarang dialami anak-anak seumuran kami. Kepada Suci, aku ingin sekali bertanya tentang kebiasaan yang tak biasa yang hanya kami yang punya sependek yang kami tahu. Apa dia masih melakukannya? Ahh… pertemuan untuk tujuan ini sudah lama aku impikan. Mencari jejak keduanya lewat media sosial bermodal nama itu sulit sekali jika ada yang menyarankan. Nama mereka berdua pasaran. Aku sudah mencobanya tapi gagal. Semoga ada kejutan kesempatan yang mempertemukan kami. Hopefully!

Gambar: Pinterest

#7DaysKF

5 Binatang Peliharaan Idaman


Saya bukan tipe orang yang menggemari binatang. Meskipun sebagian besar orang yang berkarakter introvert adalah penyayang dan sahabat binatang. Sayangnya saya bukan. Di rumah saya hanya pernah ada peliharaan ayam. Itupun tidak pernah saya sentuh karena rasanya agak canggung merasakan kehangatan dan sesuatu yang berdenyut dibalik bulu-bulu ayam. Dibalik itu, saya punya impian memelihara lima jenis binatang idaman jika seandainya di dunia ini setiap orang bebas memilih memiliki binatang apapun yang dikehendakinya.

Panda
Hello
Sejak pertama kali melihat hewan ini di televisi, saya sudah dibuat tertarik untuk membayangkan suatu waktu bisa memelihara satu di rumah. Jika saya berkesempatan diberi panda sama mungkin salah satu warga China yang beternak panda. Maka saya akan membuat kebun bamboo imitasi di dalam rumah untuk mengandangkan si panda. Saya juga selalu bermimpi suatu saat mengunjungi negeri tirai bambu dan bisa memeluk satu hewan hitam putih ini di lokasi konservasinya sambil berswafoto. Tapi jika saya memilikinya di rumah, tentu saya tidak perlu jauh-jauh ke China untuk dipeluk panda.

Lumba-lumba
Uwuw
Sejak dulu sering sekali saya membaca artikel tentang bagaimana cerdas seekor lumba-lumba. Bagaimana interaksinya dengan sesama lumba-lumba dan suara khas yang dikeluarkan saat berusaha mengode reaknnya. Bagi saya, hewan ini adalah yang terlucu setelah panda. Tidak heran kan kalau sosoknya sering dijadikan boneka yang digemari perempuan. Oh iya, suara lumba-lumba juga khas sekali jadi nada alarm ponsel disertai suara deburan ombak pantai. Pernah dengar kan? Suaranya itu menentramkan. Saat orang-orang menyambut pagi dengan bunyi kokok ayam, saya akan disambut suara asli lumba-lumba peliharaan. Waaah!

Anjing German Sheperd
Santai di pantai dolooo
Dalam kepercayaan yang saya anut, memiliki anjing adalah perkara haram. Ibadah sholat menjadi tertolak selama 40 hari saat dengan sengaja memelihara anjing layaknya memelihara kucing. Tapi saya ingin ada satu anjing jenis German Sheperd yang menjaga rumah saya. Jadi bukan untuk peliharaan tapi untuk penjaga rumah menggantikan tugas pak sekuriti kompleks yang tidak perlu lagi repot-repot memantau keadaan rumah saya saat ditinggal mudik. Sekadar info saja, anjing jenis ini terbilang mahal dan sangat diandalkan dalam penjagaan, pencarian, dan penyelamatan. Wow, kayak guardian angel dong bagi yang jomblo. *ehh…

Macan Putih
pose!
Suatu waktu teman saya menyodorkan gambar yang katanya peliharaan teman dunia mayanya. Saya kira gambar itu adalah jenis kucing mahal yang tidak saya ketahui spesies apa. Namun rupanya bukan. Itu gambar anak macan putih. Lucu sekali. Sejak saat itu, saya kepingin juga bisa mengadopsi satu sebagai ganti kucing. Biar antimainstream!

Beruang
Say hi!
Yang sering nonton serial kartun “Masha and the Bear” pasti kenal dong sama sahabat baiknya Masha, Misha si beruang. Jika ada beruang yang karakternya serupa Misha, maka saya juga ingin menandatangani surat adopsi resmi. Bayangkan saja memilki peliharaan sebaik, seulet, dan setangkas Misha. Saya tidak perlu repot-repot mengerjakan pekerjaan rumah. Serahkan saja sama Misha dan saya akan bahagia :D

Melihat daftar hewan yang saya idamkan untuk dipelihara, ternyata tidak ada yang aneh ya. Tapi rupanya saya berpotensi membuka rumah sirkus nih kalau seandainya memiliki mereka semua. Biar si German Sheperd yang jadi penjaga karcis dan pintu masuknya. Wkwkwk

Gambar: Pinterest, PixelsTalk, LoveThisPict, Dogtime, BBC, Tumblr


#7DaysKF

Cinta yang Hilang


Kehilangan kerap jadi momen yang paling kejam dan khianat. Kekejamannya karena gemar sekali ia merampas apa yang telah susah payah dimiliki dan terlanjur disayangi. Pengkhianat karena ia telah mengingkari makna harfiah dan etimologinya sendiri. Berdasarkan KBBI, hilang (hi.lang): tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan; tidak ada lagi perasaan (seperti marah, jengkel, suka, duka); tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi. Faktanya setelah peristiwa kehilangan, sulit sekali perasaan dan emosi akibat kehilangan itu menguap. Alih-alih melebur menjadi ikhlas, ia malah mengendap di dalam hati seperti terus ingin dikenang. Sungguh kejam!

Perasaan itu juga yang terus aku rasakan setiap mengingat kehilangan selamanya dari Om, Tante, dan sepupuku tercinta. Sepuluh tahun yang lalu, seorang pemuda berusia menjelang 30an dengan setia menjadi tukang antar-jemputku ke sekolah dengan vespa hijau tentara yang berbunyi nyaring. Ia tidak lain adalah omku yang tidak pernah malu memboncengku sampai di depan gerbang sekolah, justru aku yang kadang malu karena deru dan kepulan asap dari knalpotnya mencuri perhatian siswa-siswa yang berbondong-bondong dari pintu utama sekolah.

Saat itu aku masih di tahun pertama sebagai siswa berseragam putih biru yang masuk sekolah saat siang hari, karena harus bergantian menempati ruang kelas dengan kakak tingkat.  Aku selalu was-was saat omku belum juga kembali setelah pamit sebentar yang entah ke mana. Padahal jam analog yang tergantung di tembok putih rumahku telah menunjukkan angka sebelas. Belakangan saat resepsi pernikahannya sukses di gelar di kampung tanpa kehadiranku, aku menjadi tahu bahwa sebelum mengantarku ke sekolah dia mengapeli wanita yang akhirnya menjadi pendamping hidupnya.

Perempuan yang kupanggil tante itu yang sebenarnya menceritakan padaku. Sementara aku hanya ber-oh saja. Perempuan berambut ikal itu masih muda saat baru dipinang omku. Usianya sebaya Luna Maya, saat itu masih 24 tahun. Aku bahagia dan bersyukur dia pernah ada di kehidupanku. Bagiku, dia seperti kakak dan juga teman yang membimbingku dalam banyak hal.

Ia pernah bekerja sebagai koki di sebuah hotel di Toraja, jadi perihal memasak dia tahu banyak. Aku pertama kali tahu menggoreng nasi dengan telur dadar yang yang dicampur rempah-rempah dari dirinya. Saat itu aku bangga sekali memamerkan kepada orang rumah makanan buatan tanganku. Dan dia terus memujiku secara berlebihan.

Aku tidak ingat bagaimana mulanya seorang yang pemalu dan canggung sepertiku bisa langsung sedemikian akrab dengannya. Kepribadiannya yang supel dan cerewet malah membuatku nyaman dan tidak merasa canggung untuk bahkan mengerjainya yang akan disusul oleh omelan dan nasehat panjangnya. Sejujurnya aku merindukan saat-saat itu.

Bagiku ia seperti kawan yang asyik sekali kutemani bepergian dan bertukar pikiran tentang masalah kewanitaan. Meski saat itu usiaku masih terlalu kecil untuk memahami banyak hal. Terkadang ada rasa jengkel yang berkecamuk di dadaku karena kebawelannya kerap menyaingi ibuku, tapi kesyukuranku akan hadirnya menempati kamar di rumahku lebih besar dari perasaan negatifku.

Menjelang kelahiran pertamanya, ia pulang ke rumah orangtuanya di Luwu. Sayangnya, bayinya gagal diselamatkan. Beberapa waktu kemudian ia kembali mengandung, saat itu omku sudah memulai pelayarannya. Ia meninggalkan separuh jiwanya di rumahku, sementara aku sendiri sudah tidak diantar jemput lagi karena sudah masuk pagi hari. Persalinan tanteku kembali dilakukan di kampung dan bayi perempuan februari itu berhasil menghirup udara segar lewat persalinan normal. Sayang, sepupu kecilku itu sering sakit-sakitan dan belum bisa berjalan padahal usianya hampir menginjak dua tahun. Keduanya kembali tinggal di rumahku. Aku selalu terkenang dengan deru khas Panther di subuh hari saat ramadan yang mengantar keduanya dari Luwu.

Orang-orang di rumahku selalu ceria dengan kehadiran sepupu kecilku itu. Bapakku selalu mengajarinya berjalan sambil memegang kedua lengannya. Ibuku selalu memanggilkan tukang urut untuk memijat kedua kakinya dengan maksud agar segera berjalan. Aku dan kedua saudaraku selalu menggendongnya, mengajak bermain, membedaki selepas ia mandi, dan suatu waktu mengganggunya karena tampak terlalu serius. 

Dalam penantian kepulangan omku dari mengarungi lautan, tanteku selalu memasang harapan  dan menggelar doa yang saat kuingat selalu membuatku sedih. Aku selalu terkenang nada khas ponsel Nokianya yang bila berbunyi pasti tanteku akan berbicara sampai berjam-jam. Omku sudah beberapa kali pulang, saat ia berada di rumah aku merasa  aura kebapakannya menajam. Pernah ia memarahiku karena aku begadang menonton “Charlie and the Chocolate Factory” sampai pukul satu padahal esok harus ke sekolah.

Suatu waktu dalam keadaan yang tak pernah terduga, omku pulang. Badannya terserang demam dan suatu penyakit menjangkitinya. Sejak hari itu, ia tidak lagi pergi berlayar dan terus berbaring di ranjang rumahku.

Aku lupa berapa bulan tepatnya ia terus terbaring lemah sampai tanteku yang mengurusnya menjadi kehilangan berat badan. Kondisi Omku terus menurun dan rumah sakit tak pernah memberikan pelayanan yang memuaskan saat kami meminta ia di opname. Tanteku kemudian terserang sakit juga, penyakit aneh yang entah apa.

Di suatu rabu malam, tanteku kerasukan dan memelototiku dengan tajam. Ia mengamuk dan lepas kendali sampai seorang tetangga mengusir roh halus yang merasukinya. Selepas itu, kondisinya justru jauh lebih buruk dari suami yang dirawatnya. Ia dipulangkan ke Luwu dan beberapa waktu kemudian, saudara tanteku mengabarkan kepergian selamanya dari orang yang kusayangi itu. Orangtuaku langsung berangkat saat itu juga. Omku yang sakit memaksa pergi ke kampung saat malam mulai menggulita, ia berkeras meski dilarang. Dari kedua matanya kulihat air yang mengalir dan ungkapan penyesalan bernada lirih.

Di suatu subuh saat shalat baru akan ditunaikan, bapak membangunkanku. Aku terkejut dengan perkataan bapak: omku telah pergi. Aku sama tak mampunya membendung air mata dari kedua mataku seperti kehilangan tanteku. Belum lagi semalam sebelum kepergiannya, aku mengeluhkan dalam hati sikap omku yang rewel dan ingin terus ditemani oleh nenekku.

Aku tidak suka saat ia mengeraskan suara meminta diobati atau diambilkan makanan saat tengah malam. Beruntung, adik tanteku yang juga kuakrabi itu melayaninya tanpa keluhan. Aku tak bisa membayangkan jika berada di posisinya.

Rumahku masih berbau kapur barus saat jenazah omku di bawa ke Luwu. Disemayamkan tepat di samping peristirahatan Kakek. Jauh dari kuburan istri tercintanya. Rumahku mendadak dipenuhi kesedihan dan beberapa jumat setelahnya, keluargaku selalu datang berkumpul untuk mengirim doa dan yasinan.

Saat kesedihan itu perlahan sirna, sebuah hentakan lain datang menghampiri. Ponselku berdering sekitar jam 2 dini hari. Dengan suara berat dan mata setengah tertutup aku menyapa orang di seberang. Sontak aku terbelalak dan sadar. Tidak bisa berkata apa-apa selain segera loncat dari ranjang dan membangunkan ibu di kamarnya di lantai bawah. Kedua orang yang kutemani tidur pun terbangun karena kepanikanku. Sepupu kecilku juga ikut menyusul ibu bapaknya. Adik tanteku di ujung telepon terus menangis sementara aku tak mampu lagi mengontrol perasaan.

Pulang kampung menjadi hal yang menyedihkan karena rumah nenek yang sebelumnya di tempati omku sekeluarga kini menjadi sarang laba-laba. Ia hanya menyisakan kenangan yang pernah hidup dan tawa-tawa yang pernah mengisi sekat-sekat kayu yang kini rapuh. Aku tidak pernah melihat jenazah dan kuburan tante dan sepupu kecilku. Tapi doaku tidak pernah putus kepadanya. Hari ini saat aku kembali membuka kenangan tentang mereka, rasa itu masih sama. Kerinduan itu masih ada. Sebuah lagu kenangan yang paling kuingat bersama tanteku:
hilang semua janji
semua mimpi-mimpi indah
hancur hati ini melihat semua ini
lenyap telah lenyap
kebahagiaan di hati
ku hanya bisa menangisi semua ini
hancur hati ini melihat kau telah pergi
langit menjadi gelap berkelabu
menyelimuti hatiku
mengubah seluruh hidupku
mengapa semua jadi begini
perpisahan yang terjadi
di antara kita berdua
ku akan menanti sebuah keajaiban
yang membuat kita bisa bersama kembali
Semua pergi dan menghilang begitu cepat dan dekat. Seperti nasehat yang sering kudengar saat ceramah takziyah, maut tak pernah menunggumu siap. Doaku untuk kalian selalu mengiringi <3 3="" p="">



-Ditulis dengan perasaan rapuh dan air mata yang tak tertahan-

Gambar: Pinterest
Lagu: Cinta yang hilang (OST. Cinderella)

#7DaysKF

Halo!


Halo. Aku menyapamu dengan seulas senyum di wajah. Bermaksud segera mengambil hatimu sebelum kamu berpikiran seperti orang-orang. Mereka bilang aku sombong dan jutek. Katanya karena jarang senyum. Aku memang kadang segan menarik bibir hingga merenggang penuh kepada orang asing. Refleks saja. Sebelum kamu kembali berpikiran serupa, kukatakan padamu bahwa jangan tersenyum kepadaku saat menjumpaiku tanpa mata kaca yang bertengger di atas tulang hidung dan kedua daun telingaku. Semanis apapun senyummu, kedua retinaku tak bisa menangkapnya dan tak akan ada balasan yang lebih manis.

Mayoritas orang memanggil aku  Ana. Kata sederhana itu yang kedua orang tuaku tetapkan dari nama indah pemberian mereka Nur Hasanah. Tidak perlu kamu sebut kalau banyak yang memiliki nama serupa. Tetapi kamu bisa memanggilku apa saja yang mungkin terdengar baik. Sebab banyak orang di komunitas dan lingkar pertemananku memanggil dengan nama yang berbeda-beda. Tak usah kuungkap satu-satu, beda orang beda sapaan. Kamu cari saja sapaan lain yang lebih keren jika tak ingin memanggilku Ana. Yang penting sapaan itu terdengar enak saat disebut dan tidak bermakna buruk.

Aku senang menikmati baris-baris kalimat yang bermakna dan mengandung kisah. Demi mengisi waktu luang, aku sengaja memenuhi rak berukuran sedang dua susun di kamarku dengan berbuah-buah bahan bacaan. Aku juga punya banyak di ponsel dan komputer jinjingku. Aku bahagia  telah menemukannya secara gratis di situs-situs daring. Di sela kesempatan, aku berusaha untuk menuangkan pikiran dan perasaanku lewat barisan kalimat. Saat ini, masih dalam upaya untuk mengembangkan diri menyamai penulis amatir. Tidak mengapa menjadi amatir dulu kemudian profesional. Cukup itu saja yang kuberitahu. Kalau kamu ingin berteman denganku lebih jauh, jangan pernah sungkan berkunjung ke rumahku. Di sini. (:

#7DaysKF

Tari dan Jilbab


Matahari di luar bersinar terik, bias-bias cahayanya menerangi ruangan kelas yang luasnya sekitar 3x4 m. Saya mengingat-ingat saat itu sekitar jam  setengah 11 selepas bel masuk kelas berbunyi. Salah satu guru perempuan yang berkulit putih memasuki kelas kami dan seusai memberi salam langsung menjelaskan bahwa akan ada penilaian tari. Seketika siswa-siswa kelas dua SMP itu heboh. Sejujurnya saya tidak menyukai pelajaran seni tari dan seni musik. Saya lebih suka disuruh menggambar dan mensketsa, berapapun permintaan tugas yang dikumpulkan pasti saya akan senang hati melakukannya. Sayangnya teman-teman yang lain berkebalikan dengan saya sehingga setiap pelajaran seni, tugas-tugas selalu berkaitan dengan seni musik dan tari. Disesuaikan dengan mayoritas minat siswa di angkatan saya. Tersebab juga guru seni saya itu kurang menguasai bidang seni rupa.

Beberapa menit kemudian, enam siswa sudah duduk berhadap-hadapan. Pembagian kelompok tari kali ini berdasarkan urutan nama di absen yang diacak, tidak boleh memilih teman kelompok seperti yang sudah-sudah. Setelah membentuk formasi lingkaran, kami mulai mendiskusikan akan membawakan tarian jenis apa. Geng sebelah, teman-teman sekelas saya yang tepat berada di baris menghimpit tembok sudah berisik heboh membicarakan jenis lagu pengiring mereka. Sayup-sayup terdengar mereka akan membawakan dance kontemporer.

“Iya, banyak laguku yang nge-beat di komputer. Lagunya mo saja Agnes Monica! (Saya punya banyak stok lagu di komputer. Pilih lagunya Agnes Monica saja!)” ungkap Azizah, teman kelompok saya yang berbadan agak berisi. Ucapan Azizah memberi harapan kepada kami untuk segera menyusun konsep tarian, lebih tepatnya sih dance kontemporer. Maka selepas bel pulang dibunyikan, kami berenam langsung menuju rumah Azizah yang harus ditempuh dengan dua kali naik angkot dari sekolah kami.

Kami di arahkan masuk ke kamar berukuran persegi saat melewati ruang keluarga. Tepat di sisi kanan pintu, sebuah komputer cembung berwarna putih keabu-abuan yang merapat ke tembok segera dinyalakan. Sebuah kaset dari kamar itu pun disetel, dan kami memilih-milih lagu yang cocok berdasarkan gaya dancenya. Beberapa kali memainkan ulang video klip musik, akhirnya kami sepakat untuk mengcover dancenya Agnes Monica dari lagu yang berjudul “ku tlah jatuh cinta”. Pada waktu itu, lagu Agnes monica selalu jadi andalan para siswa untuk nge-dance. Kalau untuk tarian sendiri, lagu dari Siti Nurhalizalah yang jadi pengiring utama, sewaktu ujian akhir saya sempat menari juga memakai lagu Siti Nurhalizah yang berjudul “Nirmala” dengan gerakan sendiri.

Kami memerhatikan dengan seksama gerakan Agnes dan penari latarnya. Lima kali diulang, teman-teman saya sudah mampu mencontohnya sambil memutar lagu Agnes. Sementara saya malah salah gerakan, yang harusnya gerakan ke luar saya malah ke dalam. Saya mengaku memang amat payah masalah tari dan gerakan. Entah mengapa badan saya terasa kaku untuk bergerak. Selama latihan hari itu, saya jadi bahan ledekan teman-teman. Mereka juga malah disibukkan untuk mengajar saya yang lambat menguasai dan menghapal gerakan sesuai tempo lagu. Saya pun jadi lebih sering menontoni  video Agnes.

Setelah latihan hampir satu bulan, waktu pementasan untuk pengambilan nilai pun semakin dekat. Menjelang hari H, kami disibukkan dengan mencari kostum yang tepat. Kami saling membantu mencarikan teman, demi kekompakan. Tersebab kekurangan salah satu kostum untuk teman saya, kami pun memutuskan untuk memakai atasan kaos hitam dan jeans puntung. Mungkin jika kondisi saat itu di bawa ke hari ini, wah mungkin sudah dibilang gak keren. Tapi kami juga keren pada zamannya. Kaos dan jeans saat itu adalah paduan yang sudah keren untuk nge-dance­, apalagi jika memakai topi, gesper, rantai, dan sepatu kets. Wah, bisa-bisa nilainya sudah tinggi tuh kalau gerakannya juga oke.

Saat masuk SMP, saya sudah berjilbab. Itu karena impian nyantri tidak kesampaian dan saya juga aktif sebagai remaja masjid saat itu. Karena tidak mungkin berjilbab dengan jeans puntung, teman-teman mendukung saya melepas jilbab. Biarpun tidak di dukung, pasti keputusan akhirnya harus dilepas juga. Kondisi ini banyak terjadi, kakak kelas saya yang paling jago nge-dance sampai bikin pangling itu juga perempuan berjilbab yang melepas jilbabnya saat nge-dance. Ini momen pertama saya melepas jilbab di mana pengambilan nilai sebelumnya, saya tetap berjilbab karena membawa tarian melayu. Tempat kami pentas adalah panggung yang biasa dipakai saat upacara di mana semua orang akan bisa bebas menyaksikan. Yang saya syukuri karena pengambilan nilai dilakukan pada saat sore hari bukan jam sekolah, sehingga hanya angkatan saya dan siswa yang tinggal di dekat sekolah saja yang melihat.

Beberapa teman angkatan yang mengenal saya dengan baik, menegur dengan setengah tidak percaya. Saya merasa tubuh saya yang kaku itu makin kaku karena grogi dan kikuk. Tapi saya berusaha tampil all out meski ada teriakan-teriakan yang mengganggu.

Pada masa SMP itu, saya termasuk yang memiliki beberapa penggemar dari teman lelaki, entah yang beda kelas ataupun yang sekelas. Beberapa dari mereka mengaku menyukai saya karena melihat kesalehan saya. Tapi selepas dance itu seorang teman lelaki saya yang sekelas berhenti tepat di depan meja saya saat guru tidak masuk sambil bergumam istigfar dan sayup-sayup merapal doa meminta ampunan. Saya jadi super heran dengan aksinya itu.

Rupanya dia baru saja melihat hasil cetak foto berukuran 3x4 cm dari studio foto box saya yang tanpa jilbab dari teman sekelas, juga berkaitan peristiwa saya melepas jilbab saat dance. Dia menyayangkan keputusan saya itu. Mengetahui itu dari teman sekelasku yang juga sahabatnya, saya jadi malu sekali. Saya tidak menyangka kalau beberapa teman lelaki saya memerhatikan dengan sebegitunya. Padahal boleh dibilang saya sangat jarang berkomunikasi dengan teman lelaki.

Rasa malu itu masih membekas, saat sebuah grup media sosial dibentuk setelah kami saling menemukan kontak selepas kuliah. Ada teman lelaki saya yang menyinggung itu di obrolan grup. Karena malu, saya meninggalkan obrolan itu. Saya tidak tahu lagi kelanjutannya, sebab smart phone saya kemudian rusak. Duh, jika tahu akan terus diingat begitu pastilah saya tidak akan melakukan hal tersebut di masa lalu. Tidak ada dance dan lepas jilbab meski belum tahu aturan syar'inya pada masa itu. Belum lagi ada teman lain yang dulu sering menggangu saya menyindir, “Karena dia makanya saya terus jatuh cinta dengan perempuan berjilbab.” x.x***

Gambar: pinterest

#7DaysKF